Di Balik ‘Orang Desa Tak Pakai Dolar’, Ada Bisnis Besar yang Justru Diuntungkan Saat Rupiah Melemah

Menyentuh angka terlemah di Rp 17.719, tren penurunan rupiah akan terus berlanjut. Diprediksi menembus level Rp 22.000

Sumber foto: Nikita Pramodya

Sejak artikel ini ditulis pada Selasa (19/5/2026), rupiah kembali mencatat pelemahan terburuk sepanjang sejarah. Mengutip data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat telah menembus angka Rp 17.719.

Pelemahan ini bukan terjadi sekali dua kali. Sejak awal April 2026, rupiah terus mengalami penurunan hingga menembus level Rp 17.000 dan menjadi sorotan publik di tengah kondisi ekonomi yang semakin yang semakin terasa berat bagi masyarakat.

Bagi sebagian orang, angka tersebut mungkin hanya terlihat seperti data ekonomi yang datang lewat headline di berbagai platform berita. Namun bagi pedagang kaki lima, ibu-ibu penjual sayur di pasar, hingga para ibu rumah tangga yang setiap hari berusaha mencukupi uang bulanan agar dapur tetap mengepul, pelemahan rupiah terasa jauh lebih nyata

Dampaknya hadir lewat harga kebutuhan yang perlahan naik, biaya hidup yang semakin sempit, hingga keresahan sederhana tentang bagaimana bertahan sampai akhir bulan.

Karena itu, pernyataan seperti "Orang Desa Tak Pakai Dolar" justru terasa semakin jauh dari kenyataan yang dirasakan masyarakat sehari-hari. Sebab meski tidak memegang dolar secara langsung, banyak orang tetap ikut menanggung dampak ketika nilai rupiah terus melemah.

Indonesia sampai hari ini masih sangat bergantung pada impor. Mulai dari gandum, kedelai, bahan baku obat, hingga berbagai komponen industri yang dibeli menggunakan dolar. Ketika rupiah melemah, biaya masuk barang-barang tersebut ikut naik. Importir harus membayar lebih mahal, produsen mulai menyesuaikan harga, dan pada akhirnya masyarakat kembali menjadi pihak yang paling terdampak.

Kenaikan harga mungkin terlihat kecil di atas kertas, tetapi dampaknya terasa besar bagi mereka yang hidup dengan penghasilan pas-pasan. Uang belanja yang biasanya cukup untuk seminggu mulai terasa lebih cepat habis. Pedagang kecil harus memutar otak karena modal ikut naik, sementara pembeli semakin mengurangi pengeluaran.

Namun dibalik ironi nya kehidupan di zaman kini timbullah sebuah pertanyaan siapakah yang paling diuntungkan di balik semakin melemahnya rupiah? karena melihat pasifnya tindakan yang dilakukan di tengah ceruknya angka mata uang. 

“Bagi sebagian masyarakat, dolar yang naik berarti harga hidup yang ikut naik. Tapi bagi sebagian pelaku bisnis berbasis ekspor, angka yang sama bisa berarti margin keuntungan yang ikut membesar.”

Bisnis-bisnis besar yang menjual hasil usahanya ke luar negeri umumnya menerima pembayaran dalam dolar. Ketika nilai tukar rupiah melemah, pendapatan mereka otomatis ikut membesar saat dikonversi ke rupiah. Situasi ini banyak terjadi di sektor komoditas seperti sawit, batu bara, hasil perkebunan, hingga berbagai industri yang sejak lama hidup dipasar global.

Ironisnya, sektor-sektor seperti ini juga menjadi bagian dari industri yang selama bertahun-tahun mengambil keuntungan besar dari kekayaan alam Indonesia. Hutan dibuka, tanah terus dieksploitasi, dan sumber daya alam dikeruk demi memenuhi kebutuhan pasar internasional.

Sementara masyarakat kecil harus menghadapi harga hidup yang terus naik, sebagian bisnis besar justru tetap berada di posisi yang aman karena memiliki akses terhadap pasar global dan transaksi berbasis dolar.

Di situlah paradoks itu terasa paling nyata. Saat rakyat mulai mengurangi belanja demi bertahan hidup, ada pihak yang justru tetap mampu menikmati keuntungan di situasi yang sama.















Posting Komentar

0 Komentar